MAKALAH
Diajukan untuk
memenuhi tugas kelompok mata kuliah Bahasa Arab
Tema : Isim Fail, Isim Maf'ul, dan Isim Tafdhil
Dosen
Pembimbing : Asep Usamah, M.Pd
Kelompok V ( Lima ) :
Aan Andri (206223128)
Balqis Tsuroyya Palestin ( 206223151 )
Mutiara Hipni Hanip (206223061 )
Nugraha Cahya Wiguna (206223108)
FAKULTAS
KEGURUAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
STKIP
MUHAMMADIYAH KUNINGAN
2020/2021
Kata
Pengantar
Segala puji dan syukur bagi Allah Yang Maha Kuasa, karena dengan
izin-Nyalah penulis telah dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Isim
Fa’il, Isim Maf'ul, dan Isim Tafdhil” merupakan salah satu tugas kelompok mata
kuliah Bahasa Arab dari dosen pembimbing Usep Usamah, M.Pd. Salawat dan salam
kita sanjungkan kepangkuan Nabi Besar Muhammad SAW, yang telah membawa umat
dari alam kebodohan ke alam yang penuh ilmu pengetahuan.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang tak
terhingga kepada pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini,
sehingga makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya, sehingga makalah
ini berada dalam genggaman pembaca sekalian.
Dengan segala kerendahan hati penulis
menyadari bahwa makalah ini masih ada kekurangan dan kejanggalan, hal ini
bukanlah penulis sengaja, tetapi keterbatasan ilmu dan pengalaman penulis dalam
hal ini. Oleh karena itu penulis tidak menutup diri dari semua pihak untuk
memberikan kritikan dan saran yang sehat demi kesempurnaan makalah ini di masa
mendatang.
Akhirnya penulis ucapkan selamat membaca,
semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Kepada Allah jualah
penulis serahkan segalanya, semoga kita selalu mendapatkan Ridha dan Magfirah
dari-Nya, Amin……….
Tasikmalaya, Mei 2021
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Kita sebagai orang Islam memahami bahwa
bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an. Setiap muslim dituntut untuk mendalami
ajaran agama Islam. Serta dituntut untuk
mendalami Islam dengan sebenar-benarnya
dan lebih mendalam, tiada jalan lain kecuali harus mampu menggali dari sumber
asalnya, yaitu Al-Qur’an dan sunnah Rasullah SAW.
Didalam mendalami agama Islam, tentunya
kita harus memahami Kitab suci Alqur’an itu sendiri yang keseluruhannya
berbahasa Arab. Di dalam bahasa Arab terdapat ilmu serta kaidah-kaidah yang harus diketahui,
diantaranya Ilmu Nahwu dan Sharaf. Ilmu nahwu membahas kaidah-kaidah yang
terkait struktur dan perubahan kata dalam bahasa Arab itu sendiri.
Para ‘Ulama memberi julukan ilmu Nahwu
dengan Abul Ulum yang artinya ayahnya ilmu, dan memberi julukan ilmu shorof
dengan Ummul Ulum yang artinya ibunya ilmu.
Ilmu nahwu adalah suatu cabang ilmu
pengetahuan yang harus diketahui pertama kali oleh pelajar terutama para
pelajar madrasah atau pondok pesantren, karena ilmu nahwu merupakan salah satu
syarat untuk mempelajari berbagai cabang ilmu agama bahkan juga salah satu
syarat untuk mengkaji kandungan Alquran dan Hadist.
Maka penulis menyajikan suatu makalah
tentang ilmu nahwu yang membahas bab
“isim fail, isim maf'ul, dan isim tafdhil” sekedar untuk menambah
kelengkapan ilmu agama, mengusai ilmu
Nahwu dengan sempurna.
B. Rumusan Masalah
1.
Menjelaskan
isim fail.
2.
Mencaritahu
definisi isim maf'ul.
3.
Menjelaskan
isim tafdhil.
C. Manfaat Penulisan
1.
Mengetahui
penjelasan isim fail.
2.
Mengetahui
definisi isim maf'ul.
3.
Mengetahui
penjelasan isim tafdhil.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Penjelasan Isim Fa'il
·
Pengertian Isim Fail
Kata fa'il menurut bahasa
berasal dari kata الفاعل yang
berarti "pelaku" atau orang yang melakukan pekerjaan. Kata itu
diambil dari bentuk kata فعل sedangkan menurut ahli nahwu fa'il adalah
sebagaimana berikut ini.
Untuk pengertian Isim fail
menurut matan Jurumiyyah didefinisikan dengan :
الفَاعِلُ هُوَ الإسْمُ المَرْفُوْعُ
المَذْكُوْرُ قَبْلَهُ فِعْلُهُ
Isim Fa'il adalah isim yang
dibaca rofa' dimana kata kerja atau fi'ilnya disebutkan sebelum fa'il itu
sendiri.
Dari pengertian di atas
disebutkan bahwa isim fail adalah isim yang dibaca rafa karena fiil dimana fiil
itu disebutkan sebelumnya.
Sama dengan pengertian di atas,
dalam nadham Imrithi disebutkan :
الفَاعِلُ إِسْمٌ مُطْلَقاً قَدِ ارْتَفَعَ
# بِفِعْلِهِ وَالفِعْلُ قَبْلَهُ وَقَعَ
Fa'il adalah isim mutlak dirofa'kan oleh fi'ilnya, dan
fi'il (kata kerja) terletak sebelum fa'il.
Menurut pengertian lain disebutkan :
اسم مشتق من الفعل الماضي أو الفعل
المضارع المبني للمعلوم للدلالة على من
قام بالفعل أو للدلالة على من وقع منه الفعل.
Isim fail adalah isim yang
tercetak (terbuat) dari fiil madhi atau mudhari mabni ma'lum yang menunjukkan
pada seseorang yang melakukan pekerjaan atau menunjukkan pada seseorang yang
menyebabkan terjadinya pekerjaan itu.
Menurut definisi ini, isim fail
berarti isim yang terbuat dari fiil madhi atau mudhari yang berbentuk mabni ma'lum
atau pelakunya diketahui dimana pelaku itu adalah sebab dari adanya pekerjaan
atau perbuatan itu sendiri. Pengertian ini dilihat dari segi ilmu sharaf karena
lebih melihat dari bentuk isim menggunakan wazan فاعل.
Contoh Isim Fa'il :
Untuk memperjelas definisi di
atas dalam memahami isim fail, mari kita lihat contoh-contoh berikut :
جَاءَ زيدٌ = Muhammad telah datang
Dalam kalimat di atas, kata جَاءَ adalah fi'il
madhi,sedangkan زيدٌ adalah fa'il
(pelaku) yang mana disebut setelah fi'il madhi. Kata fa'il di atas dibaca rofa'
dengan tanda rofa'nya menggunakan dhommah karena kata zaid termasuk isim mufrod
atau isim yang menunjukkan arti satu.
قَامَ الزيدان = Dua zaid itu telah berdiri
Lafadz الزيدان adalah fa'il
(pelaku pekerjaan berdiri), zaidani dibaca rofa' dengan tanda rofa menggunakan
alif karena termasuk isim tasniyah (isim yang menunjukan arti dua).
ُجاء زيد القائم ابنُه Zaid yang
anaknya berdiri telah datang
Kata ابنُه ini dibaca
rafa' karena menjadi fail dari kata القائم. Dan kata
al-Qaimu ini bukan fiil tetapi memiliki makna seperti fiil karena ia termasuk
syibhul fi'il atau serupa fiil. Adapun kata ibnuhu itu dibaca rafa'
sebagai fail dengan alamat dhammah karena termasuk isim mufrad.
Berdasarkan dari beberapa
contoh di atas kita bisa menyimpulkan bahwa isim fail itu adalah pelaku
pekerjaan dimana ia harus memiliki fiil. Adapun fiil itu bisa berupa fiil biasa
seperti fiil madhi, mudhari atau fiil yang serupa fiil (syibhu fi'il) berupa kata
sifat seperti al-majhul dan al-qaim dalam contoh di atas.
Contoh Isim Fa'il الفاعل dalam
Al-Quran
Ada banyak sekali contoh isim
fail dalam al-Quran, dan berikut adalah beberapa contohnya :
1) يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ
Hampir saja kilat itu menyambar
penglihatan mereka.
Kata الۡبَرۡقُ adalah isim
fail dari fiil يَكَادُ.
2) وَاِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلٰٓٮِٕكَةِ
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu
berfirman kepada para malaikat.
3. فَتَلَقّٰٓى اٰدَمُ مِنۡ رَّبِّهٖ كَلِمٰتٍ فَتَابَ عَلَيۡهِؕ
Kemudian Adam
menerima beberapa kalimat dari Tuhannya.
·
Pembagian Isim Fa'il
Isim fail sendiri dibagi
menjadi dua dari jenis nampak maupun tidaknya, yaitu fail isim dhohir (الظَاهِرُ) dan fail
isim dhamir atau isim mudhmar (المُضْمَرُ).
1. fail isim Dhahir (الظَاهِرُ)
Secara bahasa, kata dhahir berarti tampak. Adapun
maksud dari fail isim dhahir adalah fail yang bentuknya tampak atau jelas. Dalam matan jurumiyyah
disebutkan bahwa isim dhahir adalah :
مَادَلَّ عَلَى مُسَمَّاهُ بِلَا قَيِّدٍ
كَزَيْدٍ وَ رَجُلٍ
fa'il dhahir adalah
lafadz yang menunjukan pada apa yang disebutkan tanpa pembatasan, seperti
lafadz زَيْدٌ (zaid:nama
orang) dan رَجُلٌ (seorang
laki-laki).
Jadi isim dhahir adalah isim yang jika disebutkan maka
akan menunjukkan apa yang disebutkan itu.
Berikut ini adalah beberapa
contoh fail berupa isim dhahir :
جاء احمد
= Ahmad telah datang, failnya adalah kata Ahmad.
قال ابن جرير = Ibnu Jarir berkata, failnya adalah kata
Ibnu Jarir.
رضي الله
= Allah meridhai, failnya adalah kata Allah.
Contoh-contoh di atas sudah sangat jelas tentunya bahwa
fa'il dhohir adalah fa'il yang langsung disebutkan di dalam kalimat, dan
langsung tertuju pada fa'il tersebut, tanpa ada perantara dan tanpa ikatan
apapun.
2. Fail Isim Dhamir (ضمير) atau
Mudhmar (المُضْمَرُ)
Pembagian fa'il berikutnya
adalah fail isim dhamir atau juga disebut mudhmar. Kata dhamir atau mudhmar
sendiri menurut bahasa berarti 'yang tersembunyi'. Adapun menurut istilah kata
fa'il isim dhamir bisa kita lihat dalam
matan al-jurumiyah:
مَا دَلَّ عَلَى مُتَكَلِّمٍ أَوْ مُخَاطَبٍ
أَوْ غَائِبٍ
Fa'il isim dhamir atau
mudhmar adalah lafadz yang menunjukan kepada kata ganti orang yang berbicara
(dhamir Mutakallim), kata ganti orang yang diajak bicara (dhamir mukhatab),
atau kata ganti orang yang tidak hadir (dhamir ghaib atau kata orang ketiga
seperti kata dia atau mereka).
Contoh dari isim dhamir ini adalah :
قلنا = Kami berkata
جئنا = Kalian datang
ِصمت = Engkau perempuan berpuasa
Fail isim dhamir sendiri dibagi
menjadi tiga, yaitu dhamir mutakallim atau orang yang berbicara, dhamir
mukhatab atau yang diajak bicara dan dhamir ghaib atau orang ketiga.
Dhamir mutakallim (الضمير المتكلم)
Berarti orang yang berbicara
atau pihak yang berbicara dalam bahasa indonesia adalah saya dan kita. Dengan
demikian, dhamir mutakallim ini dibagi menjadi dua, yaitu mutakallim wahdah
"ضمير متكلم وحده"
yang berarti mutakallim sendiri atau satu dan mutakallim ma'al ghair 'متكلم مع الغير' atau
mutakallim bersama yang lain.
a. Dhamir Mutakallim Wahdah "ضمير متكلم وحده"
Adalah dhamir kata ganti orang
yang berbicara 'mutakallim' yang menunjukan arti satu atau sendiri tanpa
disertai orang lain. Contohnya adalah أنَا (saya).
b. Dhamir Mutakallim Maal Ghair
"متكلم مع الغير"
Perbedaan dhamir mutakallim
maal ghair dengan mutakallim wahdah sangatlah mudah. Kalau wahdah itu seperti
saya aku, satu orang tapi kalau maal ghair itu seperti kami kita, yaitu banyak
orang.
Jadi dhamir mutakallim maal
ghair itu berarti kata ganti orang yang berbicara 'mutakallim' menunjukan arti
berserta lainnya atau menunjukan arti orang banyak. Contoh adalah kata: نَحْنُ yanb
berarti kami atau kita.
Dhamir ini ketika berposisi
menjadi fa'il pada fi'il madhi maka ia akan berbentuk nun dan alif yang
diletakan di akhir kata, dan huruf sebelum nun alif ini harus berharakat sukun,
sebagaimana contoh berikut :
كَتبْنَا الرسالةَ
Kata كَتبْنَا memiliki
akhiran نَا yang itu
adalah dhamir mutakallim maal ghair yang berarti kami. Kami telah menulis
surat.
b. Dhamir Mukhatab (الضمير المخاطب) Orang Yang
Diajak Bicara
Dhamir mukhatab adalah kata ganti orang yang diajak
bicara atau lawan bicara dimana dalam bahasa Indonesianya berarti kamu, anda
atau kalian. Dalam bahasa Arab, dhamir ini berbeda bentuknya antara
laki-laki dan perempuan dimana untuk menguasainya perlu menguasai jenis-jenis
bentuk dhamir.
Adapun contoh dari dhamir mukhatab sebagai fail adalah
sebagaimana kata berikut ini :
أنْتَ berarti kamu (laki-laki) ditunjukan untuk seorang mukhatab dengan
jenis laki-laki. Dhamir ini ketika menjadi fa'il dalam fi'il madhi akan menjadi
تَ yang berharokat fathah dengan huruf sebelumnya dibaca sukun sebagaimana
contoh berikut :
كَتَبْتَ الرسالةَ = Kamu (laki-laki) telah
menulis surat.
Huruf ta pada kata katabta itu adalah fail isim dhamir
mutakallim yang berarti kamu telah melakukan pekerjaan menulis surat.
c. Dhamir Ghaib (الضمير الغيب)
Berbeda dengan dhamir
sebelumnya, dhamir ghaib itu adalah dhamir untuk kata ganti orang ketiga
seperti dia dan mereka. Berikut ini adalah contohnya :
هُوَ berarti dia (laki-laki) merupakan
kata ganti untuk menyubut orang yang tidak ada dimana dalam bentuk fiil madhi
dan mudhari akan berbeda. Dalam fiil madhi, kata itu tersembunyi alias tidak
ditulis. Kita akan mudah memahami dengan contoh berikut :
كَتَبَ الرسالةَ = Dia telah menulis surat. Kata ba itu
menyimpan dhamir هُوَ yang berarti dia telah menulis. Namun waktu berbentuk
fiil mudhari akan kelihatan dengan ditambah ya, seperti contoh :
يَكْتُبُ الرسالةَ = Dia sedang menulis surat. Huruf ya itu
adalah dhamir untuk laki-laki yang berarti dia sedang melakukan pekerjaan
menulis surat.
Untuk memahami dhamir ini
secara lebih lanjut insyaAllah kangdidik.com akan membahasnya dalam bab lain
secara lebih detail.
·
Macam-macam Hukum Fa’il
Fail itu mempunyai beberapa ketentuan di
antaranya ialah :
1)
Tidak boleh membuang fail.
2)
Fa’il tidak boleh mendahului
fi’il nya.
3)
Fi’il nya harus di mufrad kan
beserta fai’il isim tatsniah atau jamak.
4)
Wajib ta-nis fi’il dengan memakai ta yang di –sukun-kan pada akhir
madhi dengan memakai ta mudhara’ah pada awal fi’il bila mana fai’il nya muatnas
hakiki yang ta-nis (dan fi’il nya bukan نِعْمَ dan بِئْسَ ).
5)
Menurut kaidah asal hendaknya
fai’il mengiringi fi’ilnya kemudian disebutkan maf’ul nya.
·
Sedangkan Isim fail adalah
sighat tasrif dalam ilmu Shorof, ia sering diterjemahkan dengan kata “yang”.
Contoh isim fail : Tulisan ini
akan memuat 27 contoh isim fail dalam al quran yang terdapat dalam beberapa
surat dan ayat, adapaun yang menjadi contoh isim failnya adalah lafadz yang
bergaris bawah.
1) Ar ra’du ayat 16
قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ
الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ (١٦)
Wazan = فَاعِلٌ
2) Al kahfi ayat 19
قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ
قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ
Wazan = فَاعِلٌ
3) Az Zumar ayat 22
فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ
ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ)٢٢)
Wazan = فَاعِلٌ
B. Penjelasan Isim Maf'ul
·
Definisi Isim Maf’ul
اسم المفعول : صفة تؤخذ من الفعل المجهول،
للدلالة على حدث وقع على الموصوف بها على وجه الحدوث و التجدد ، لا الثبوت و
الدوام
Isim fa’il adalah sifat yang
terjadi dari fi’il bina majhul, yang menunjukkan suatu peristiwa (perbuatan) yang terjadi pada
maushuf (yang disifati) dari aspek terjadinya bukan dari aspek tetapnya (sifat
tersebut pada diri pelaku). Seperti pada contoh :
1) كـُتِبَ الدَّرْسُ ، الدَّرْسُ مَكـْـتـُوْبٌ
Kata “ مَكـْـتـُوْبٌ “ dibentuk dari fi’il bina majhul “كـُتِبَ “. Ia merupakan isim maf’ul yang berarti
“ yang tertulis/ditulis “ . Ia merupakan sifat yang menunjukkan terjadinya
perbuatan “ menulis “ pada maushuf ( الدَّرْسُ ), bukan sifat yang melekat padanya.
2) قُرِأَ القُرآنُ ، فالقرآنُ مَقْرُوْأٌ
Kata “ مَقْرُوْأٌ “ pada contoh di atas adalah isim maf’ul. Ia
terbentuk dari fi’il bina majhul “ قُـُرِأَ “. Ia
merupakan sifat yang menunjukkan terjadinya perbuatan pada maushuf ( القُرآنُ ), bukan sifat yang melekat padanya.
·
Fungsi Isim Maf’ul
Dalam kalimat, isim maf’ul
berperan sebagai objek. Tapi, dengan posisinya sebagai objek, isim maf’ul dapat
mengubah i’rab (harakat huruf terakhir) beberapa kata. Perubahannya adalah
sebagai berikut.
Jika isim maf’ul itu memiliki
alif-lam, maka Ia akan berfungsi seperti fi’il mabni majhul (kata kerja pasif).
Terjemahan kata isim maf’ul biasanya menjadi “yang di(beri perlakuan A)”.
Misalnya, المَفْقُوْدُ مالُهُ حَزينٌ (almafquudu maalahu haziinun, artinya ‘Orang yang kehilangan
harta merasa sedih).
Jika isim maf’ul tidak memiliki
alif-lam/ nakirah bertanwin, maka beberapa syarat yang harus dipenuhi agar Ia
dapat berperan sebagai fi’il mabni majhul adalah sebagai berikut :
1. Harus terletak setelah mubtada’/ subjek.
2. Harus terletak setelah kata tanyam
3. Harus menjadi hal/ sesuatu yang menjelaskan, berupa
sifat atau keterangan lainnya.
Misalnya, خالدٌ مضروبٌ كَلْبُهُ (Khaalidun
mudhribun kalbuhu). Khalid berperan sebagai mubtada’, mudhrabun sebagai berita/
khabar (dalam hal ini isim fa’il), dan kalbuhu sebagai isim maf’ul. Ia terletak
setelah mubtada’ dan menjadi bagian penjelasan).
·
Cara membentuk Isim Maf’ul
Sebagaimana isim fa’il, cara
membentuk isim maf’ul tergantung pada jumlah huruf pada kata dasar (masdar)
yang membentuknya.
Berikut ini adalah cara membentuk isim maf’ul.
1. Membentuk Fi’il Tsulatsy Mujarrad menjadi isim
maf’ul
Cara membentuk fi’il tsulatsy
mujarrad menjadi isim maf’ul cukup mudah.
a) Tambahkan huruf مَ (fathah) di
awal pola fa-‘a-la (huruf 1, 2,3), menjadi ma-fa-‘a-la (ma, 1, 2, 3).
b) Matikan harakat huruf pertama, pola berubah menjadi
ma-f-‘a-la.
c) Tambahkan Huruf وْ (sukun)
sebelum huruf terakhir, jadi pola ma-f-‘a-wauw-la.
d) Ganti harokat huruf sebelum و dengan
Dhommah, sehingga mengubah pola menjadi ma-f-‘u-wauw-la atau ma-f-‘uu-la.
Contohnya adalah sebagai berikut :
Bahasa Arab Fi’il = Cara Baca = Bahasa Indonesia,
Bahasa Arab Isim = Maf’ul = Cara Baca = Bahasa Indonesia :
كَتَبَ = kataba = menulis,مَكْتُوْبٌ = maktuubun = yang ditulis
ضَرَبَ = dharaba = memuku,مَضْرُوْبٌ =
madhruubun = yang dipukul
Pada kasus khusus seperti huruf
tengah berupa alif (kata jenis ini disebut sebagai mu’tal ajwaf), maka ganti
huruf alif menjadi waw berharakat dhammah (ma-f-wuu-la).
Tapi karena tidak praktis dalam
penyebutan, pola diubah menjadi ma-fu-wauw-la.
Contohnya adalah قَالَ
(qaala, berkata), yang diubah menjadi مَقُوْلٌ (maquulun,
yang dikatai).
Sebelum menjadi maquulun, terlebih dahulu maquulun
berada dalam bentuk maqwuulun (مَقْوُوْلٌ), untuk
kepraktisan, yang dipakai adalah maquulun.
2. Membentuk isim maf’ul dari fi’il tsulatsi mazid/
ruba’i
a) Jadikan fi’il madhi ke bentuk fi’il mudhari’.
b) Ganti Huruf Mudhori’ (ي،ت،ا،ن) dengan
huruf (م) berharkat Dhommah (mu).
c) Fathahkan huruf sebelum akhir.
d) Bentuknya memang akan sama dengan isim fa’il, tapi
maknanya beda.
Contohnya adalah sebagai berikut :
Bahasa Arab Fi’il = Cara Baca = Bahasa Indonesia,
Bahasa Arab Isim Maf’ul = Cara Baca = Bahasa Indonesia
أَكْرَمَ – يُكْرِمُ = Akrama- yukramu =
memuliakan, مُكْرَمٌ = mukramun = orang yang dimuliakan
اِسْتَقْبَلَ – يَسْتَقْبِلُ = Istaqbala- yastaqbilu = menghadap ke depan,
= مُسْتَقْبَلٌ mustaqbilun = masa yang didatangi
تَوَاجَهَ – يَتَوَاجَهُ = tawaajah- yatawaajahu = menghadap, = مُتَوَاجَهٌ mutawaajahunمُتَوَاجَ
= orang yang dihadapi.
C. Penjelaskan Isim Tafdhil
·
Definisi isim tafḍil
اسمُ التفضيل : صفةٌ تُؤخذُ من الفعل
لتدُلُّ على ان شيئين اشتركا فى صفة ، وزاد احدُ هما على الآخر فيها ، مثلُ : «
خليلٌ اعلمُ من سعيد و افضلُ منه » .
Isim tafḍil adalah sifat yang
diambil dari fi’il untuk menunjukkan sifat bagi sesuatu yang sama dalam
sifatnya, dan salah satu sifat dari
keduanya bermakna lebih dari yang lainnya.
Seperti dalam contoh :
« خليلٌ اعلمُ من سعيد و افضل منه » “ khalil
lebih alim dari sa’id dan lebih baik darinya”.
Dan kadang-kadang isim tafḍil itu tidak bermakna
lebih.
Adapun isim tafḍil terjadi
antara dua perkara dari dua sifat yang berbeda-beda.
1. Wazan isim tafḍil
Isim tafḍil berwazan satu
yaitu« اَفْعَلُ » bagi muzakkar dan « فُعْلَى » bagi
muannats-nya seperti « اَفْضَلُ »dan « فُضْلَى » atau « اَكْبَرُ » dan . «كُبْرَى»
Terdapat hamzah yang telah
dibuang « اَفْعَلُ» dalam tiga kata yaitu; خَيْرٌ َ، حَبٌّ شَرٌّ، seperti dalam: خَيْرُ النَّاسُ مَنْ يَنْفَعُ النَّاسُ » » dan seperti dalam
perkataan « شَرُّ النَّاس المُفْسد
». adapun 3 isim tafḍil ini asalnya اَخَيْرُ وَ اَشَرُّ وَ اَحَبُّ
» » dibuang hamzahnya karena agar
mempermudah pengucapan dan boleh ditetapkan seperti asalnya dan itu sedikit penggunaannya.
2. Syarat pembentukan
isim tafḍil
a. Isim tafḍil tidak
dibentuk kecuali dari fi’il ṡulaṡȋ yang
memiliki tiga huruf tetap, ( متصرّف ) atau yang
bertashrif, ( معلوم ) atau yang
diketahui, ( تام ) atau
lengkap, kata tersebut dapat dijadikan isim tafḍil, tidak menunjukkan warna
atau aib (hal yang memalukan), atau hiasan.
b. Isim tafḍil tidak
dibentuk dari kata ( ما كتب) karena fi’il nafi, tidak pula dibentuk
dari ( اكرم ) karena
lebih dari tiga huruf, dan tidak boleh pula bagi ( بئس و ليس )
karena semuanya itu isim jamid, tidak
boleh pula bagi fi’il majhul, tidak boleh pula bagi ( صار و كان ) dan contoh lainnya dari fi’il yang naqis. Dan
tidak boleh pula bagi (مات) karena
tidak menerima untuk dijadikan isim tafḍil karena dalam mati itu tidak menerima
kelebihan dan mati itu hanya satu, dan tidak pula di bentuk dari (سَوِدَ ) karena
menunjukkan kepada warna, dan tidak pula dibentuk dari ( عَوِرَ ) karena
menunjukkan kepada aib, dan tidak pula dibentuk dari ( كَحِلَ) karena
menunjukkan kepada perhiasan.
3. Kedudukan isim tafḍil
Kedudukan isim tafḍil ada empat, yaitu :
a. Terlepas dari alif lam (ال ) dan
iḍafah, contohnya :
“khalid lebih baik dari sa’id” ( خَالدٌ اَفْضَلُ مِنْ سَعِيْدٍ
)
b. Bersambungnya dengan alif lam, contohnya :
“Dia lebih baik dari saudaranya” ( هو الأَفْضَلُ مِنْ اَخِيْهِ )
c. Iḍafahnya ke nakirah, contohnya :
“fatimah sebaik-baik perempuan” ( فاَطِمةٌ اَفْضَلُ مِنْ امرأةٍ
)
d. Iḍafahnya ke ma’rifah, contohnya :
“Zaid sebaik-baik laki-laki” ( زَيْدٌ افضَلُ الرِّجالُ )
4.Timbangan (wazan) isim tafḍil
اَفْعَلُ [4 ] mufrad muzakkar : فُعْلىَ mufrad muannaṡ :
اَفْعَلاَنِ = muṡanna muzakkar : فُعْلَيَان muṡanna muannaṡ :
اَفْعَلُوْنَ =jama’ muzakkar : فُعْلَيَاتٌ jama’ muannaṡ :
اَفاَعِلُ
= jama’ muzakkar : فُعَلَ jama’ muannaṡ :
Keterangan :
a. Jama’ bagi muzakkar ada dua yaitu اَفْعَلُوْنَ dan اَفاَعِلُ
b. Jama’ bagi muannaṡ ada dua yaitu فُعْلَيَاتٌ
dan فُعَلَ
·
Isim tafḍil yang terdapat di dalam
Alquran
1) QS.Al-Baqārah : 217
كَبُرَ-يَكْبُرُ-كُبْرًا = besar
أَكْبَرُ = lebih besar
2) QS.al-Baqārah : 140
عَلِمَ-يَعْلَمُ-عِلْمٌ = mengetahui
أَعْلَمُ= lebih tau
3) QS.al-Baqārah : 228
حًقّ-يَحِقُّ = berhak
اَحَقُّ = lebih berhak
4) QS. Sabā’ : 35
كَثُرَ-يَكْثُرُ = banyak
أَكْثَرُ = lebih banyak
·
Syarat Membentuk Isim Tafdhil
Ada beberapa persyaratan dalam pembentukan
isim tafdhil, yaitu :
1) Berasal dari fi’il tsulatsi mujarad.
2) Dari fi’il mutsbat bukan dari fi’il manfi.
3) Dari fi’il mutasharif (نعم, بئس dan ليس tidak dapat
dijadikan isim tafdhil).
4) Dari fi’il mabni ma’lum.
5) Dari fi’il tamm (كان dan fi’il
naqiesh lainnya tidak dapat dijadikan isim tafdhil).
6) Menerima untuk dilebihkan (lafal مات tidak dapat
dijadikan isim tafdhil ).
7) Isim tafdhil tidak boleh dibuat dari lafal yang
menunjukan warna, cacat, dan hiasan (seperti كحل, عور, سود ).
·
Beberapa Hal Mengenai Isim
Tafdhil
Ada empat hal yang berkaitan dengan isim
tafdhil, yaitu :
1) Isim tafdhil sepi dari AL (الْ) dan tidak
diidhafahkan.
Ketika isim tafdhil sepi dari AL dan tidak
di-idhafahkan, maka dalam keadaan apapun ia harus menetapi bentuk mufrad mudzakar. Dan bertemu dengan huruf MIN yang
men-jer-kan mufadhal ‘alaih. contoh :
الطَائِرَةُ اَسْرَعُ مِنَ
الْقِطَارِ = Pesawat itu lebih cepat
daripada kereta
زَيْدٌ اَفْضَلُ مِنْ
عَمْرٍو = Zaid lebih utama daripada
Amr
فَاطِمَةُ اجْمَلُ مِنْ
أُخْتِهَا = Fatimah lebih cantik
daripada saudaranya
Dari ketiga contoh
diatas pada lafal isim tafdhil اسرع, افضل, اجمل selalu
mufrad dan berjenis mudzakar, tidak muannats, karena mereka sepi dari huruf AL
dan tidak pula di-idhafahkan.
2) Isim tafdhil yang disertai dengan huruf
AL
Dalam hal ini ketika isim tafdhil kemasukan huruf AL,
maka harus muthobiq (cocok/sesuai) dengan mufadhal baik dalam hal mufrad,
tasniyah, jamak, mudzakar maupun muannats, dan tidak disebutkan mufadhal
‘alaihnya. Contoh :
Keterangan
المفضل + اسم اتفضيل
a. Khalid yang paling utama.
b. Shokhifah yang
paling utama.
c. Mereka berdua paling utama.
d. Mereka (llk) yang paling utama.
e. Mereka (pr) yang paling utama.
f. Mufrad Mudzakar.
g. Mufrad Muannats.
h. Mutsanna Mudzakar.
i.
Jamak Mudzakar.
j.
Jamak Muannats
خليدٌ الأضَلُ
صَحِيْفَةُ الْفُضْلَى
هُمَاالأفْضَلاَنِ
هُمُ الأَفْضَلُوْنَ
هُنَّ الفُضْلَيَاتُ
Pada contoh diatas kata-kataالافضل,الافضلان,الافضلون,الفضلى dan الفضلياتmengikuti mufadhal
baik dalam hal mufrad, mudzakar, muannats, maupun jamak. Lafal خليل berbentuk mufrad maka isim tafdhil-nya juga
harus berbentuk mufrad yaitu الافضل . Demikian
halnya lafalصحيفة dst.
3) Isim tafdhil di-idhafahkan kepada isim nakirah
Ketika ia di-idhafahkan kepada isim nakirah, maka isim tafdhil
tersebut harus selalu mufrad mudzakar. Hanya saja huruf MIN tidak
disebutkan.
Contoh
:
Arti
المفضل + اسم التفضيل+اسم نكرة و
مجرور
a. Khalil lelaki terpandai.
b. Fatimah semulia-mulia wanita.
c. Dua orang ini sebaik-baiknya dua orang laki-laki.
d. Dua orang ini
wanita terpandai.
e. Para pejuang itu semegah-megahnya para lelaki.
f. Para guru wanita itu adalah wanita yang paling baik
خَلِيلٌ اَعْلَمُ رَجُلٍ
فاطمة اَكْرَمُ امْرَأةٍ
هذان اَحْسَنُ رَجُلَيْنِ
هاتان اَعْلَمُ امْرَأتَيْنِ
الْمُجَاهِدُوْنَ اَفْخَمُ
رِجَالٍ
الْمُتعَلِّمَاتُ خَيْرُ نِسَاءٍ
4) Isim tafdhil di-idhafahkan kepada isim
ma’rifat
Dalam Al-fiyah diterangkan bahwa ketika isim tafdhil
di-idhafahkan kepada isim ma’rifat, maka
ada dua segi bacaan ,yaitu :
a. Pemakaiannya dianggap seperti lafal
yang mujarad , yaitu tidak disesuaikan(muthobiq) dengan mufadhalnya dan tidak
menyebutkan huruf MIN. Sehingga dapat dikatakan sebagai berikut :
الزيدان افضل القوم
الزيدون افضل القوم
فاطمة افضل النساء
الفطمتان افضل النساء
b. Pemakaiannya dianggap seperti isim
tafdhil yang dibarengi dengan AL, yaitu sesuai(muthobiq) dengan mufadhalnya.
Sehingga dapat dikatakan sebagai berikut :
الزيدان افضلا القوم
الرجلون اعلموا القوم
الزيدون افاضل القوم
نيل فضلى النساء
الهندان فضليا النساء
الفطمات فضليات النساء
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ilmu nahwu adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang
harus diketahui pertama kali oleh pelajar terutama para pelajar madrasah atau
pondok pesantren, karena ilmu nahwu merupakan salah satu syarat untuk
mempelajari berbagai cabang ilmu agama bahkan juga salah satu syarat untuk
mengkaji kandungan Alquran dan Hadist.
Isim tafḍil adalah sifat yang diambil dari fi’il untuk
menunjukkan sifat bagi sesuatu yang sama dalam sifatnya, dan salah satu
sifat dari keduanya bermakna lebih dari
yang lainnya. Dalam bahasa Arab dikenal bentuk yang mengandung makna
“lebih”, yang disebut isim tafḍil. Bentuk acuannya adalah: اَفْعَلُ. Isim tafḍil
hanya dapat dibentuk dari kata kerja tiga huruf, kata itu mempunyai
bentuk-bentuk taṣrif yang lengkap, kata sifatnya tidak sama bentuknya
dengannya, dan maknanya bukan makna pasif. Bila isim tafḍil diikuti mudhāf
ilaih maknanya “ter”/superlatif.
B. Kritik Dan Saran
Berkenaan dengan penulisan
makalah ini, tentu saja kami banyak
mengalami kesulitan dalam penyusunan makalah. Baik dalam segi kurangnya
referensi maupun minimnya pengetahuan dan pemahaman terhadap materi. Sehingga
tidak terlepas kemungkinan terjadi banyak kesalahan. Maka dari itu kami mohon
kritik dan sarannya, apabila terdapat sesuatu yang mengganjal dalam karya tulis
kami ini. Atas kritik dan saran anda kami ucapkan banyak terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Fiyyah Syarah Ibnu ‘Aqil Khaironi, A.
Shohib.2008.Audlohul Manāhij A Complete Guide to Arabic Grammar. Jatibening :
WCM Press.
Mustafa, Galayini.Jāmi’ud Durus Al-‘Arabiyyah. Beirut
: Darul Fikr, 2007.
Sukamto, Imamuddin.Tata Bahasa Arab Sistematis.
Hakim, Taufiqul.2003.Qāidati Program Pemula Membaca
Kitab Kuning. Jepara : Al-Falah Offset.
Mustafa, Gulayini. Jami’ud Durus Al-‘Arobiyyah. Bairut
: Darul Fikr, 2007.
Fahmi, Ahmad Akrom.Ilmu Nahwu dan Sharaf
3. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2002.
Anwar, Moch. Ilmu Nahwu Terjemahan Matan
Al-Jurumiyah dan ‘Imrithy Berikut Penjelasannya. Bandung : Sinar Baru
Algensido, 2000.
Syekh Syamsuddin Muhammad Araaini. Ilmu Nahwu
Terjemahan Mutammimah Ajurumiyyah. Bandung:SINAR BARU ALGENSINDO. 2004
www.bismillahku.blogspot.com
www.maf’ulbihwikipedia.com
www.penjelasanmaf’ulnahwu.blogspot.co.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar