Senin, 24 Mei 2021

Makalah Isim Fail, Isim Maf'ul, dan Isim Tafdhi

 

 

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Bahasa Arab

Tema : Isim Fail, Isim Maf'ul, dan Isim Tafdhil

Dosen Pembimbing : Asep Usamah, M.Pd

 



 

 

 

 

 

 

 

 

Kelompok V ( Lima ) :

Aan Andri (206223128)

Balqis Tsuroyya Palestin ( 206223151 )

Mutiara Hipni Hanip (206223061 )

Nugraha Cahya Wiguna (206223108)

 

FAKULTAS KEGURUAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

STKIP MUHAMMADIYAH KUNINGAN

2020/2021


Kata Pengantar

Segala puji dan syukur bagi Allah Yang Maha Kuasa, karena dengan izin-Nyalah penulis telah dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Isim Fa’il, Isim Maf'ul, dan Isim Tafdhil” merupakan salah satu tugas kelompok mata kuliah Bahasa Arab dari dosen pembimbing Usep Usamah, M.Pd. Salawat dan salam kita sanjungkan kepangkuan Nabi Besar Muhammad SAW, yang telah membawa umat dari alam kebodohan ke alam yang penuh ilmu pengetahuan.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini, sehingga makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya, sehingga makalah ini berada dalam genggaman pembaca sekalian.

Dengan segala kerendahan hati penulis menyadari bahwa makalah ini masih ada kekurangan dan kejanggalan, hal ini bukanlah penulis sengaja, tetapi keterbatasan ilmu dan pengalaman penulis dalam hal ini. Oleh karena itu penulis tidak menutup diri dari semua pihak untuk memberikan kritikan dan saran yang sehat demi kesempurnaan makalah ini di masa mendatang.

Akhirnya penulis ucapkan selamat membaca, semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Kepada Allah jualah penulis serahkan segalanya, semoga kita selalu mendapatkan Ridha dan Magfirah dari-Nya, Amin……….

 

 

                                                                                 Tasikmalaya, Mei 2021

                                                                                               

                        

Penulis

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar belakang

Kita sebagai orang Islam memahami bahwa bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an. Setiap muslim dituntut untuk mendalami ajaran agama Islam. Serta  dituntut untuk mendalami Islam dengan  sebenar-benarnya dan lebih mendalam, tiada jalan lain kecuali harus mampu menggali dari sumber asalnya, yaitu Al-Qur’an dan sunnah Rasullah SAW.

Didalam mendalami agama Islam, tentunya kita harus memahami Kitab suci Alqur’an itu sendiri yang keseluruhannya berbahasa Arab. Di dalam bahasa Arab terdapat ilmu serta  kaidah-kaidah yang harus diketahui, diantaranya Ilmu Nahwu dan Sharaf. Ilmu nahwu membahas kaidah-kaidah yang terkait struktur dan perubahan kata dalam bahasa Arab itu sendiri.

Para ‘Ulama memberi julukan ilmu Nahwu dengan Abul Ulum yang artinya ayahnya ilmu, dan memberi julukan ilmu shorof dengan Ummul Ulum yang artinya ibunya ilmu.

Ilmu nahwu adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang harus diketahui pertama kali oleh pelajar terutama para pelajar madrasah atau pondok pesantren, karena ilmu nahwu merupakan salah satu syarat untuk mempelajari berbagai cabang ilmu agama bahkan juga salah satu syarat untuk mengkaji kandungan Alquran dan Hadist.

Maka penulis menyajikan suatu makalah tentang ilmu nahwu  yang membahas bab “isim fail, isim maf'ul, dan isim tafdhil” sekedar untuk menambah kelengkapan  ilmu agama, mengusai ilmu Nahwu dengan sempurna.

B. Rumusan Masalah

      1.            Menjelaskan isim fail.

      2.            Mencaritahu definisi isim maf'ul.

      3.            Menjelaskan isim tafdhil.

 

C. Manfaat Penulisan

      1.            Mengetahui penjelasan isim fail.

      2.            Mengetahui definisi isim maf'ul.

      3.            Mengetahui penjelasan isim tafdhil.



BAB II

PEMBAHASAN

A. Penjelasan Isim Fa'il

·         Pengertian Isim Fail

Kata fa'il menurut bahasa berasal dari kata الفاعل yang berarti "pelaku" atau orang yang melakukan pekerjaan. Kata itu diambil dari bentuk kata فعل  sedangkan menurut ahli nahwu fa'il adalah sebagaimana berikut ini.

Untuk pengertian Isim fail menurut matan Jurumiyyah didefinisikan dengan :

الفَاعِلُ هُوَ الإسْمُ المَرْفُوْعُ المَذْكُوْرُ قَبْلَهُ فِعْلُهُ

Isim Fa'il adalah isim yang dibaca rofa' dimana kata kerja atau fi'ilnya disebutkan sebelum fa'il itu sendiri.

Dari pengertian di atas disebutkan bahwa isim fail adalah isim yang dibaca rafa karena fiil dimana fiil itu disebutkan sebelumnya.

Sama dengan pengertian di atas, dalam nadham Imrithi disebutkan :

الفَاعِلُ إِسْمٌ مُطْلَقاً قَدِ ارْتَفَعَ # بِفِعْلِهِ وَالفِعْلُ قَبْلَهُ وَقَعَ

Fa'il adalah isim mutlak dirofa'kan oleh fi'ilnya, dan fi'il (kata kerja) terletak sebelum fa'il.

Menurut pengertian lain disebutkan :

اسم مشتق من الفعل الماضي أو الفعل المضارع  المبني للمعلوم للدلالة على من قام بالفعل أو للدلالة على من وقع منه الفعل.

Isim fail adalah isim yang tercetak (terbuat) dari fiil madhi atau mudhari mabni ma'lum yang menunjukkan pada seseorang yang melakukan pekerjaan atau menunjukkan pada seseorang yang menyebabkan terjadinya pekerjaan itu.

Menurut definisi ini, isim fail berarti isim yang terbuat dari fiil madhi atau mudhari yang berbentuk mabni ma'lum atau pelakunya diketahui dimana pelaku itu adalah sebab dari adanya pekerjaan atau perbuatan itu sendiri. Pengertian ini dilihat dari segi ilmu sharaf karena lebih melihat dari bentuk isim menggunakan wazan فاعل.

Contoh Isim Fa'il :

Untuk memperjelas definisi di atas dalam memahami isim fail, mari kita lihat contoh-contoh berikut :

جَاءَ زيدٌ = Muhammad telah datang

Dalam kalimat di atas, kata جَاءَ adalah fi'il madhi,sedangkan زيدٌ adalah fa'il (pelaku) yang mana disebut setelah fi'il madhi. Kata fa'il di atas dibaca rofa' dengan tanda rofa'nya menggunakan dhommah karena kata zaid termasuk isim mufrod atau isim yang menunjukkan arti satu.

قَامَ الزيدان   = Dua zaid itu telah berdiri

Lafadz الزيدان adalah fa'il (pelaku pekerjaan berdiri), zaidani dibaca rofa' dengan tanda rofa menggunakan alif karena termasuk isim tasniyah (isim yang menunjukan arti dua).

ُجاء زيد القائم ابنُه Zaid yang anaknya berdiri telah datang

Kata ابنُه ini dibaca rafa' karena menjadi fail dari kata القائم. Dan kata al-Qaimu ini bukan fiil tetapi memiliki makna seperti fiil karena ia termasuk syibhul fi'il atau serupa fiil. Adapun kata ibnuhu itu dibaca rafa' sebagai fail dengan alamat dhammah karena termasuk isim mufrad.

Berdasarkan dari beberapa contoh di atas kita bisa menyimpulkan bahwa isim fail itu adalah pelaku pekerjaan dimana ia harus memiliki fiil. Adapun fiil itu bisa berupa fiil biasa seperti fiil madhi, mudhari atau fiil yang serupa fiil (syibhu fi'il) berupa kata sifat seperti al-majhul dan al-qaim dalam contoh di atas.

Contoh Isim Fa'il الفاعل dalam Al-Quran

Ada banyak sekali contoh isim fail dalam al-Quran, dan berikut adalah beberapa contohnya :

1) يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ

Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka.

Kata  الۡبَرۡقُ adalah isim fail dari fiil يَكَادُ.

2) وَاِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلٰٓٮِٕكَةِ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat.

3. فَتَلَقّٰٓى اٰدَمُ مِنۡ رَّبِّهٖ كَلِمٰتٍ فَتَابَ عَلَيۡهِؕ

   Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya.

·         Pembagian Isim Fa'il

Isim fail sendiri dibagi menjadi dua dari jenis nampak maupun tidaknya, yaitu fail isim dhohir (الظَاهِرُ) dan fail isim dhamir atau isim mudhmar (المُضْمَرُ).

1. fail isim Dhahir (الظَاهِرُ)

Secara bahasa, kata dhahir berarti tampak. Adapun maksud dari fail isim dhahir adalah fail yang bentuknya tampak atau jelas. Dalam matan jurumiyyah disebutkan bahwa isim dhahir adalah :

مَادَلَّ عَلَى مُسَمَّاهُ بِلَا قَيِّدٍ كَزَيْدٍ  وَ رَجُلٍ

fa'il dhahir adalah lafadz yang menunjukan pada apa yang disebutkan tanpa pembatasan, seperti lafadz زَيْدٌ (zaid:nama orang) dan رَجُلٌ (seorang laki-laki).

Jadi isim dhahir adalah isim yang jika disebutkan maka akan menunjukkan apa yang disebutkan itu.

Berikut ini adalah beberapa contoh fail berupa isim dhahir :

جاء احمد  = Ahmad telah datang, failnya adalah kata Ahmad.

قال ابن جرير  = Ibnu Jarir berkata, failnya adalah kata Ibnu Jarir.

رضي الله  = Allah meridhai, failnya adalah kata Allah.

Contoh-contoh di atas sudah sangat jelas tentunya bahwa fa'il dhohir adalah fa'il yang langsung disebutkan di dalam kalimat, dan langsung tertuju pada fa'il tersebut, tanpa ada perantara dan tanpa ikatan apapun.

2. Fail Isim Dhamir (ضمير) atau Mudhmar (المُضْمَرُ)

Pembagian fa'il berikutnya adalah fail isim dhamir atau juga disebut mudhmar. Kata dhamir atau mudhmar sendiri menurut bahasa berarti 'yang tersembunyi'. Adapun menurut istilah kata fa'il  isim dhamir bisa kita lihat dalam matan al-jurumiyah:

مَا دَلَّ عَلَى مُتَكَلِّمٍ أَوْ مُخَاطَبٍ أَوْ غَائِبٍ

Fa'il isim dhamir atau mudhmar adalah lafadz yang menunjukan kepada kata ganti orang yang berbicara (dhamir Mutakallim), kata ganti orang yang diajak bicara (dhamir mukhatab), atau kata ganti orang yang tidak hadir (dhamir ghaib atau kata orang ketiga seperti kata dia atau mereka).

Contoh dari isim dhamir ini adalah :

قلنا = Kami berkata

جئنا = Kalian datang

ِصمت = Engkau perempuan berpuasa

Fail isim dhamir sendiri dibagi menjadi tiga, yaitu dhamir mutakallim atau orang yang berbicara, dhamir mukhatab atau yang diajak bicara dan dhamir ghaib atau orang ketiga.

Dhamir mutakallim (الضمير المتكلم)

Berarti orang yang berbicara atau pihak yang berbicara dalam bahasa indonesia adalah saya dan kita. Dengan demikian, dhamir mutakallim ini dibagi menjadi dua, yaitu mutakallim wahdah "ضمير متكلم وحده" yang berarti mutakallim sendiri atau satu dan mutakallim ma'al ghair 'متكلم مع الغير' atau mutakallim bersama yang lain.

a. Dhamir Mutakallim Wahdah "ضمير متكلم وحده"

Adalah dhamir kata ganti orang yang berbicara 'mutakallim' yang menunjukan arti satu atau sendiri tanpa disertai orang lain. Contohnya adalah أنَا (saya).

b. Dhamir Mutakallim Maal Ghair "متكلم مع الغير"

Perbedaan dhamir mutakallim maal ghair dengan mutakallim wahdah sangatlah mudah. Kalau wahdah itu seperti saya aku, satu orang tapi kalau maal ghair itu seperti kami kita, yaitu banyak orang.

Jadi dhamir mutakallim maal ghair itu berarti kata ganti orang yang berbicara 'mutakallim' menunjukan arti berserta lainnya atau menunjukan arti orang banyak. Contoh adalah kata: نَحْنُ yanb berarti kami atau kita.

Dhamir ini ketika berposisi menjadi fa'il pada fi'il madhi maka ia akan berbentuk nun dan alif yang diletakan di akhir kata, dan huruf sebelum nun alif ini harus berharakat sukun, sebagaimana contoh berikut :

كَتبْنَا الرسالةَ

Kata كَتبْنَا memiliki akhiran نَا yang itu adalah dhamir mutakallim maal ghair yang berarti kami. Kami telah menulis surat.

b. Dhamir Mukhatab (الضمير المخاطب) Orang Yang Diajak Bicara

Dhamir mukhatab adalah kata ganti orang yang diajak bicara atau lawan bicara dimana dalam bahasa Indonesianya berarti kamu, anda atau kalian. Dalam bahasa Arab, dhamir ini berbeda bentuknya antara laki-laki dan perempuan dimana untuk menguasainya perlu menguasai jenis-jenis bentuk dhamir.

Adapun contoh dari dhamir mukhatab sebagai fail adalah sebagaimana kata berikut ini :

أنْتَ berarti kamu (laki-laki)  ditunjukan untuk seorang mukhatab dengan jenis laki-laki. Dhamir ini ketika menjadi fa'il dalam fi'il madhi akan menjadi تَ yang berharokat fathah dengan huruf sebelumnya dibaca sukun sebagaimana contoh berikut :

كَتَبْتَ الرسالةَ = Kamu (laki-laki) telah menulis surat.

Huruf ta pada kata katabta itu adalah fail isim dhamir mutakallim yang berarti kamu telah melakukan pekerjaan menulis surat.

c. Dhamir Ghaib (الضمير الغيب)

Berbeda dengan dhamir sebelumnya, dhamir ghaib itu adalah dhamir untuk kata ganti orang ketiga seperti dia dan mereka. Berikut ini adalah contohnya :

هُوَ berarti dia (laki-laki) merupakan kata ganti untuk menyubut orang yang tidak ada dimana dalam bentuk fiil madhi dan mudhari akan berbeda. Dalam fiil madhi, kata itu tersembunyi alias tidak ditulis. Kita akan mudah memahami dengan contoh berikut :

كَتَبَ الرسالةَ  = Dia telah menulis surat. Kata ba itu menyimpan dhamir هُوَ yang berarti dia telah menulis. Namun waktu berbentuk fiil mudhari akan kelihatan dengan ditambah ya, seperti contoh :

يَكْتُبُ الرسالةَ  = Dia sedang menulis surat. Huruf ya itu adalah dhamir untuk laki-laki yang berarti dia sedang melakukan pekerjaan menulis surat.

Untuk memahami dhamir ini secara lebih lanjut insyaAllah kangdidik.com akan membahasnya dalam bab lain secara lebih detail.

·         Macam-macam Hukum Fa’il

Fail  itu mempunyai beberapa ketentuan di antaranya ialah :

1)      Tidak boleh membuang fail.

2)      Fa’il tidak boleh mendahului fi’il nya.

3)      Fi’il nya harus di mufrad kan beserta fai’il isim tatsniah atau jamak.

4)      Wajib ta-nis fi’il dengan memakai ta yang di –sukun-kan pada akhir madhi dengan memakai ta mudhara’ah pada awal fi’il bila mana fai’il nya muatnas hakiki yang ta-nis (dan fi’il nya bukan نِعْمَ dan بِئْسَ ).

5)      Menurut kaidah asal hendaknya fai’il mengiringi fi’ilnya kemudian disebutkan maf’ul nya.

·         Sedangkan Isim fail adalah sighat tasrif dalam ilmu Shorof, ia sering diterjemahkan dengan kata “yang”.

Contoh isim fail : Tulisan ini akan memuat 27 contoh isim fail dalam al quran yang terdapat dalam beberapa surat dan ayat, adapaun yang menjadi contoh isim failnya adalah lafadz yang bergaris bawah.

1) Ar ra’du ayat 16

قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ  (١٦)

Wazan = فَاعِلٌ

2) Al kahfi ayat 19

قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ

Wazan = فَاعِلٌ

3) Az Zumar ayat 22

فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ)٢٢)

Wazan = فَاعِلٌ

 

B. Penjelasan Isim Maf'ul

·         Definisi Isim Maf’ul

اسم المفعول : صفة تؤخذ من الفعل المجهول، للدلالة على حدث وقع على الموصوف بها على وجه الحدوث و التجدد ، لا الثبوت و الدوام

Isim fa’il adalah sifat yang terjadi dari fi’il bina majhul, yang menunjukkan  suatu peristiwa (perbuatan) yang terjadi pada maushuf (yang disifati) dari aspek terjadinya bukan dari aspek tetapnya (sifat tersebut pada diri pelaku). Seperti pada contoh :

1) كـُتِبَ الدَّرْسُ ، الدَّرْسُ مَكـْـتـُوْبٌ

Kata “   مَكـْـتـُوْبٌ    “ dibentuk dari fi’il bina majhul “كـُتِبَ   “. Ia merupakan isim maf’ul yang berarti “   yang tertulis/ditulis  “ . Ia merupakan sifat yang menunjukkan terjadinya perbuatan “ menulis “ pada maushuf (  الدَّرْسُ  ), bukan sifat yang melekat padanya.

2)  قُرِأَ القُرآنُ ، فالقرآنُ مَقْرُوْأٌ

Kata “  مَقْرُوْأٌ  “ pada contoh di atas adalah isim maf’ul. Ia terbentuk dari fi’il bina majhul “  قُـُرِأَ  “.   Ia merupakan sifat yang menunjukkan terjadinya perbuatan pada maushuf (  القُرآنُ   ), bukan sifat yang melekat padanya.

·         Fungsi Isim Maf’ul

Dalam kalimat, isim maf’ul berperan sebagai objek. Tapi, dengan posisinya sebagai objek, isim maf’ul dapat mengubah i’rab (harakat huruf terakhir) beberapa kata. Perubahannya adalah sebagai berikut.

Jika isim maf’ul itu memiliki alif-lam, maka Ia akan berfungsi seperti fi’il mabni majhul (kata kerja pasif). Terjemahan kata isim maf’ul biasanya menjadi “yang di(beri perlakuan A)”.

Misalnya, المَفْقُوْدُ مالُهُ حَزينٌ (almafquudu maalahu haziinun, artinya ‘Orang yang kehilangan harta merasa sedih).

Jika isim maf’ul tidak memiliki alif-lam/ nakirah bertanwin, maka beberapa syarat yang harus dipenuhi agar Ia dapat berperan sebagai fi’il mabni majhul adalah sebagai berikut :

1.      Harus terletak setelah mubtada’/ subjek.

2.      Harus terletak setelah kata tanyam

3.      Harus menjadi hal/ sesuatu yang menjelaskan, berupa sifat atau keterangan lainnya.

Misalnya, خالدٌ مضروبٌ كَلْبُهُ (Khaalidun mudhribun kalbuhu). Khalid berperan sebagai mubtada’, mudhrabun sebagai berita/ khabar (dalam hal ini isim fa’il), dan kalbuhu sebagai isim maf’ul. Ia terletak setelah mubtada’ dan menjadi bagian penjelasan).

·         Cara membentuk Isim Maf’ul

Sebagaimana isim fa’il, cara membentuk isim maf’ul tergantung pada jumlah huruf pada kata dasar (masdar) yang membentuknya.

Berikut ini adalah cara membentuk isim maf’ul.

1. Membentuk Fi’il Tsulatsy Mujarrad menjadi isim maf’ul

Cara membentuk fi’il tsulatsy mujarrad menjadi isim maf’ul cukup mudah.

a)      Tambahkan huruf مَ (fathah) di awal pola fa-‘a-la (huruf 1, 2,3), menjadi ma-fa-‘a-la (ma, 1, 2, 3).

b)      Matikan harakat huruf pertama, pola berubah menjadi ma-f-‘a-la.

c)      Tambahkan Huruf وْ (sukun) sebelum huruf terakhir, jadi pola ma-f-‘a-wauw-la.

d)     Ganti harokat huruf sebelum و dengan Dhommah, sehingga mengubah pola menjadi ma-f-‘u-wauw-la atau ma-f-‘uu-la.

Contohnya adalah sebagai berikut :

Bahasa Arab Fi’il = Cara Baca = Bahasa Indonesia, Bahasa Arab Isim = Maf’ul = Cara Baca = Bahasa Indonesia :

كَتَبَ = kataba = menulis,مَكْتُوْبٌ  = maktuubun = yang ditulis

ضَرَبَ = dharaba = memuku,مَضْرُوْبٌ     = madhruubun = yang dipukul

Pada kasus khusus seperti huruf tengah berupa alif (kata jenis ini disebut sebagai mu’tal ajwaf), maka ganti huruf alif menjadi waw berharakat dhammah (ma-f-wuu-la).

Tapi karena tidak praktis dalam penyebutan, pola diubah menjadi ma-fu-wauw-la.

Contohnya adalah قَالَ  (qaala, berkata), yang diubah menjadi مَقُوْلٌ (maquulun, yang dikatai).

Sebelum menjadi maquulun, terlebih dahulu maquulun berada dalam bentuk maqwuulun (مَقْوُوْلٌ), untuk kepraktisan, yang dipakai adalah maquulun.

2. Membentuk isim maf’ul dari fi’il tsulatsi mazid/ ruba’i

a)      Jadikan fi’il madhi ke bentuk fi’il mudhari’.

b)      Ganti Huruf Mudhori’ (ي،ت،ا،ن) dengan huruf (م) berharkat Dhommah (mu).

c)      Fathahkan huruf sebelum akhir.

d)     Bentuknya memang akan sama dengan isim fa’il, tapi maknanya beda.

Contohnya adalah sebagai berikut :

Bahasa Arab Fi’il = Cara Baca = Bahasa Indonesia, Bahasa Arab Isim Maf’ul = Cara Baca = Bahasa Indonesia

أَكْرَمَ – يُكْرِمُ         = Akrama- yukramu   = memuliakan, مُكْرَمٌ  = mukramun = orang yang dimuliakan

 اِسْتَقْبَلَ – يَسْتَقْبِلُ   = Istaqbala- yastaqbilu = menghadap ke depan,

  = مُسْتَقْبَلٌ          mustaqbilun = masa yang didatangi

تَوَاجَهَ – يَتَوَاجَهُ     = tawaajah- yatawaajahu = menghadap,        = مُتَوَاجَهٌ            mutawaajahunمُتَوَاجَ = orang yang dihadapi.

 

C. Penjelaskan Isim Tafdhil

·         Definisi isim tafḍil

 

اسمُ التفضيل : صفةٌ تُؤخذُ من الفعل لتدُلُّ على ان شيئين اشتركا فى صفة ، وزاد احدُ هما على الآخر فيها ، مثلُ : « خليلٌ اعلمُ من سعيد و افضلُ منه » .

Isim tafḍil adalah sifat yang diambil dari fi’il untuk menunjukkan sifat bagi sesuatu yang sama dalam sifatnya, dan salah satu sifat  dari keduanya bermakna lebih dari yang lainnya.

Seperti dalam contoh :

« خليلٌ اعلمُ من سعيد و افضل منه » “ khalil lebih alim dari sa’id dan lebih baik darinya”.

Dan kadang-kadang isim tafḍil itu tidak bermakna lebih.

Adapun isim tafḍil terjadi antara dua perkara dari dua sifat yang berbeda-beda.

1. Wazan isim tafḍil

Isim tafḍil berwazan satu yaitu« اَفْعَلُ »  bagi muzakkar dan « فُعْلَى » bagi muannats-nya seperti  « اَفْضَلُ »dan  « فُضْلَى » atau « اَكْبَرُ » dan    . «كُبْرَى»  

Terdapat hamzah yang telah dibuang «  اَفْعَلُ»  dalam tiga kata yaitu; خَيْرٌ َ، حَبٌّ  شَرٌّ،  seperti dalam: خَيْرُ النَّاسُ مَنْ يَنْفَعُ النَّاسُ »    » dan seperti dalam perkataan « شَرُّ النَّاس المُفْسد ». adapun 3 isim tafḍil ini asalnya اَخَيْرُ وَ اَشَرُّ وَ اَحَبُّ »  » dibuang hamzahnya karena agar mempermudah pengucapan dan boleh ditetapkan seperti asalnya dan itu sedikit penggunaannya.

2. Syarat pembentukan isim tafḍil

a. Isim tafḍil tidak dibentuk kecuali dari fi’il ṡulaṡȋ  yang memiliki tiga huruf tetap, ( متصرّف ) atau yang bertashrif, ( معلوم ) atau yang diketahui, ( تام ) atau lengkap, kata tersebut dapat dijadikan isim tafḍil, tidak menunjukkan warna atau aib (hal yang memalukan), atau hiasan.

b. Isim tafḍil tidak dibentuk dari kata ( ما كتب)  karena fi’il nafi, tidak pula dibentuk dari   ( اكرم ) karena lebih dari tiga huruf, dan tidak boleh pula bagi ( بئس و ليس ) karena  semuanya itu isim jamid, tidak boleh pula bagi fi’il majhul, tidak boleh pula bagi ( صار و كان )  dan contoh lainnya dari fi’il yang naqis. Dan tidak boleh pula bagi (مات) karena tidak menerima untuk dijadikan isim tafḍil karena dalam mati itu tidak menerima kelebihan dan mati itu hanya satu, dan tidak pula di bentuk dari (سَوِدَ ) karena menunjukkan kepada warna, dan tidak pula dibentuk dari ( عَوِرَ ) karena menunjukkan kepada aib, dan tidak pula dibentuk dari ( كَحِلَ) karena menunjukkan kepada perhiasan.

3. Kedudukan isim tafḍil

Kedudukan isim tafḍil ada empat, yaitu :

a. Terlepas dari alif lam (ال  )  dan iḍafah, contohnya :

“khalid lebih baik dari sa’id” ( خَالدٌ اَفْضَلُ مِنْ سَعِيْدٍ )

b. Bersambungnya dengan alif lam, contohnya :

“Dia lebih baik dari saudaranya” (  هو الأَفْضَلُ مِنْ اَخِيْهِ  )

c. Iḍafahnya ke nakirah, contohnya :

“fatimah sebaik-baik perempuan” ( فاَطِمةٌ اَفْضَلُ مِنْ امرأةٍ )

d. Iḍafahnya ke ma’rifah, contohnya :

“Zaid sebaik-baik laki-laki” (  زَيْدٌ افضَلُ الرِّجالُ  )

4.Timbangan (wazan) isim tafḍil

اَفْعَلُ [4 ] mufrad muzakkar : فُعْلىَ mufrad muannaṡ :         

اَفْعَلاَنِ = muṡanna muzakkar :       فُعْلَيَان  muṡanna muannaṡ :

اَفْعَلُوْنَ =jama’ muzakkar :           فُعْلَيَاتٌ jama’ muannaṡ :

اَفاَعِلُ  = jama’ muzakkar : فُعَلَ jama’ muannaṡ :

Keterangan :

a.       Jama’ bagi muzakkar ada dua yaitu اَفْعَلُوْنَ  dan اَفاَعِلُ

b.      Jama’ bagi muannaṡ ada dua yaitu  فُعْلَيَاتٌ dan  فُعَلَ

·         Isim tafḍil yang terdapat di dalam Alquran

1) QS.Al-Baqārah : 217

كَبُرَ-يَكْبُرُ-كُبْرًا =  besar

أَكْبَرُ = lebih besar

2) QS.al-Baqārah : 140

عَلِمَ-يَعْلَمُ-عِلْمٌ = mengetahui

أَعْلَمُ= lebih tau

3) QS.al-Baqārah : 228  

حًقّ-يَحِقُّ  = berhak

اَحَقُّ  = lebih berhak

4) QS. Sabā’ : 35

كَثُرَ-يَكْثُرُ = banyak

أَكْثَرُ = lebih banyak

·         Syarat Membentuk Isim Tafdhil

Ada beberapa persyaratan dalam pembentukan isim tafdhil, yaitu :

1)      Berasal dari fi’il tsulatsi mujarad.

2)      Dari fi’il mutsbat bukan dari fi’il manfi.

3)      Dari fi’il mutasharif (نعم, بئس dan ليس tidak dapat dijadikan isim tafdhil).

4)      Dari fi’il mabni ma’lum.

5)      Dari fi’il tamm (كان dan fi’il naqiesh lainnya tidak dapat dijadikan isim tafdhil).

6)      Menerima untuk dilebihkan (lafal مات tidak dapat dijadikan isim tafdhil ).

7)      Isim tafdhil tidak boleh dibuat dari lafal yang menunjukan warna, cacat, dan hiasan (seperti كحل, عور, سود ).

·         Beberapa Hal Mengenai Isim Tafdhil

Ada empat hal yang berkaitan dengan isim tafdhil, yaitu :

1) Isim tafdhil sepi dari AL (الْ) dan tidak diidhafahkan.

Ketika isim tafdhil sepi dari AL dan tidak di-idhafahkan, maka dalam keadaan apapun ia harus menetapi bentuk mufrad  mudzakar. Dan bertemu dengan huruf MIN yang men-jer-kan mufadhal ‘alaih. contoh :

الطَائِرَةُ اَسْرَعُ مِنَ الْقِطَارِ  = Pesawat itu lebih cepat daripada kereta          

زَيْدٌ اَفْضَلُ مِنْ عَمْرٍو  = Zaid lebih utama daripada Amr               

فَاطِمَةُ اجْمَلُ مِنْ أُخْتِهَا  = Fatimah lebih cantik daripada saudaranya      

Dari ketiga contoh diatas pada lafal isim tafdhil اسرع, افضل, اجمل selalu mufrad dan berjenis mudzakar, tidak muannats, karena mereka sepi dari huruf AL dan tidak pula di-idhafahkan.

2) Isim tafdhil yang disertai dengan huruf AL

Dalam hal ini ketika isim tafdhil kemasukan huruf AL, maka harus muthobiq (cocok/sesuai) dengan mufadhal baik dalam hal mufrad, tasniyah, jamak, mudzakar maupun muannats, dan tidak disebutkan mufadhal ‘alaihnya. Contoh :

Keterangan

المفضل + اسم اتفضيل

a.       Khalid yang paling utama.

b.      Shokhifah  yang paling utama.

c.       Mereka berdua paling utama.

d.      Mereka (llk) yang paling utama.

e.       Mereka (pr) yang paling utama.

f.       Mufrad Mudzakar.

g.      Mufrad Muannats.

h.      Mutsanna Mudzakar.

i.        Jamak Mudzakar.

j.        Jamak Muannats

خليدٌ الأضَلُ

 صَحِيْفَةُ الْفُضْلَى

هُمَاالأفْضَلاَنِ

هُمُ الأَفْضَلُوْنَ

هُنَّ الفُضْلَيَاتُ

Pada contoh diatas kata-kataالافضل,الافضلان,الافضلون,الفضلى  dan الفضلياتmengikuti mufadhal  baik dalam hal mufrad, mudzakar, muannats, maupun jamak. Lafal خليل  berbentuk mufrad maka isim tafdhil-nya juga harus berbentuk mufrad yaitu الافضل . Demikian halnya lafalصحيفة   dst.

3) Isim tafdhil di-idhafahkan kepada isim nakirah

Ketika ia di-idhafahkan kepada isim nakirah, maka isim tafdhil tersebut harus selalu mufrad mudzakar. Hanya saja huruf MIN tidak disebutkan.

Contoh  :

Arti

المفضل + اسم التفضيل+اسم نكرة و مجرور

a.       Khalil lelaki terpandai.

b.      Fatimah semulia-mulia wanita.

c.       Dua orang ini sebaik-baiknya dua orang laki-laki.

d.      Dua orang  ini wanita terpandai.

e.       Para pejuang itu semegah-megahnya para lelaki.

f.       Para guru wanita itu adalah wanita yang  paling baik

خَلِيلٌ اَعْلَمُ رَجُلٍ

فاطمة اَكْرَمُ امْرَأةٍ

هذان اَحْسَنُ رَجُلَيْنِ

هاتان اَعْلَمُ امْرَأتَيْنِ

الْمُجَاهِدُوْنَ اَفْخَمُ رِجَالٍ

الْمُتعَلِّمَاتُ خَيْرُ نِسَاءٍ

4) Isim tafdhil di-idhafahkan kepada isim ma’rifat

Dalam Al-fiyah diterangkan bahwa ketika isim tafdhil di-idhafahkan kepada isim ma’rifat,  maka ada dua segi bacaan ,yaitu :

a. Pemakaiannya dianggap seperti lafal yang mujarad , yaitu tidak disesuaikan(muthobiq) dengan mufadhalnya dan tidak menyebutkan huruf MIN. Sehingga dapat dikatakan sebagai berikut :

الزيدان افضل القوم

الزيدون افضل القوم

فاطمة افضل النساء

الفطمتان افضل النساء

b. Pemakaiannya dianggap seperti isim tafdhil yang dibarengi dengan AL, yaitu sesuai(muthobiq) dengan mufadhalnya. Sehingga dapat dikatakan sebagai berikut :

الزيدان افضلا القوم

الرجلون اعلموا القوم

الزيدون افاضل القوم

نيل فضلى النساء

الهندان فضليا النساء

الفطمات فضليات النساء

 

 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Ilmu nahwu adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang harus diketahui pertama kali oleh pelajar terutama para pelajar madrasah atau pondok pesantren, karena ilmu nahwu merupakan salah satu syarat untuk mempelajari berbagai cabang ilmu agama bahkan juga salah satu syarat untuk mengkaji kandungan Alquran dan Hadist.

Isim tafḍil adalah sifat yang diambil dari fi’il untuk menunjukkan sifat bagi sesuatu yang sama dalam sifatnya, dan salah satu sifat  dari keduanya bermakna lebih dari yang lainnya. Dalam bahasa Arab dikenal bentuk yang mengandung makna “lebih”, yang disebut isim tafḍil. Bentuk acuannya adalah: اَفْعَلُ. Isim tafḍil hanya dapat dibentuk dari kata kerja tiga huruf, kata itu mempunyai bentuk-bentuk taṣrif yang lengkap, kata sifatnya tidak sama bentuknya dengannya, dan maknanya bukan makna pasif. Bila isim tafḍil diikuti mudhāf ilaih maknanya “ter”/superlatif.

B. Kritik Dan Saran

Berkenaan dengan penulisan makalah ini, tentu saja  kami banyak mengalami kesulitan dalam penyusunan makalah. Baik dalam segi kurangnya referensi maupun minimnya pengetahuan dan pemahaman terhadap materi. Sehingga tidak terlepas kemungkinan terjadi banyak kesalahan. Maka dari itu kami mohon kritik dan sarannya, apabila terdapat sesuatu yang mengganjal dalam karya tulis kami ini. Atas kritik dan saran anda kami ucapkan banyak terima kasih.

 


DAFTAR PUSTAKA

Al-Fiyyah Syarah Ibnu ‘Aqil Khaironi, A. Shohib.2008.Audlohul Manāhij A Complete Guide to Arabic Grammar. Jatibening : WCM Press.

Mustafa, Galayini.Jāmi’ud Durus Al-‘Arabiyyah. Beirut : Darul Fikr, 2007.

Sukamto, Imamuddin.Tata Bahasa Arab Sistematis.

Hakim, Taufiqul.2003.Qāidati Program Pemula Membaca Kitab Kuning. Jepara : Al-Falah Offset.

Mustafa, Gulayini. Jami’ud Durus Al-‘Arobiyyah. Bairut : Darul Fikr, 2007.

Fahmi, Ahmad Akrom.Ilmu Nahwu dan Sharaf 3. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2002.

Anwar, Moch. Ilmu Nahwu Terjemahan Matan Al-Jurumiyah dan ‘Imrithy Berikut Penjelasannya. Bandung : Sinar Baru Algensido, 2000.

Syekh Syamsuddin Muhammad Araaini. Ilmu Nahwu Terjemahan Mutammimah Ajurumiyyah. Bandung:SINAR BARU ALGENSINDO. 2004

www.bismillahku.blogspot.com

www.maf’ulbihwikipedia.com

www.penjelasanmaf’ulnahwu.blogspot.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makalah Kompetensi Guru Bagian Profesional

  PAPER MATA KULIAH ETIKA PROFESI KEGURUAN KOMPETENSI GURU BAGIAN PROFESIONAL Disusun Guna Memenuhi Salah Satu tugas Terstruktur Etika...